Wednesday, March 26, 2014

Forget-Me-Not

BAB 1??


Kedua mataku terbuka secara perlahan. Sulit untuk membukanya, dikarenakan kelopak mataku masih terlalu berat untuk dibuka. Otakku sepertinya masih ingin beristirahat lebih banyak lagi.

Huh, tetapi sepertinya nasib berkata lain.
Aku bisa melihat seseorang diatasku—dan walaupun penglihatanku masih sedikit kabur karena cahaya lampu yang hampir membuat mataku buta, aku masih bisa melihat surai rambut yang unik yang dimiliki oleh orang itu. Silver warnanya, begitu pula dengan kedua matanya. Aku sangat mengenal orang ini.
Hikaru Hamano. Dia adalah teman sekamarku, dan salah satu temanku yang paling dekat disini. Hikaru termasuk murid yang rajin—ia selalu bangun pagi dan selalu mengerjakan pekerjaan rumahnya. Walaupun begitu, nilainya pas-pas-an. Aneh, padahal ia sudah seperti orang pintar.
Ia mengguncang-guncangkan tubuhku sekali dua kali dengan lembutnya. "Hayato-kun, bangun..." ujarnya. Suaranya terdengar sangat lembut untuk seorang lelaki, hampir mirip dengan suara perempuan. Aku mengucak-ucak mataku, mencoba untuk membuatnya terbuka lebar.
"Hngg..." Aku menguap lebar dengan tanganku menutup mulutku dan menengok ke arah orang itu beberapa detik, mengedipkan mataku, lalu menutup mataku kembali. "5 menit lagi..." ujarku dengan malasnya. Suaraku terdengar serak entah mengapa.
Aku mendengar Hikaru menghela nafas, kemudian diikuti dengan sebuah "baiklah... Jangan salahkan aku kalau kau telat, ya," lanjutnya datar, tetapi aku mengabaikannya.
Tempat tidurku berguncang sedikit setelah itu, dan berat yang tadi ada di sebelahku pun hilang. Hikaru sudah beranjak dari tempat tidurku rupanya. Bahkan tanpa mataku, aku bisa tahu bahwa Hikaru sedang berjalan. Telingaku yang tajam menangkap suara pintu dibuka, dan dengan itu aku tahu bahwa ia sedang berjalan keluar. Pintu pun ditutup, dan sekarang aku bisa tidur sepuasnya.
Tunggu.
Jam berapa sekarang?
Seketika kedua mataku terbuka lebar, membiarkan mata biruku melihat kain lebar yang menutupi tanganku. Aku segera melemparnya ke lantai dan mengambil iPhone-ku yang ada di bawah bantal, dan menekan satu-satunya tombol yang ada di bawah touch screen-nya.
Jantungku hampir lepas ketika mengetahui jam berapa sekarang ini. Jam digital yang tertera di dalam iPhone-ku itu seakan mengejekku yang sudah sangat telat ini. Angka nol muncul tiga kali dan angka tujuh muncul satu kali.
Aku telat. Pakai sangat. Aku kesiangan karena tadi malam—aku tidur jam tiga pas. Sekarang aku telat, dan aku tahu itu salahku.
Aku tahu aku telat, tetapi, walaupun aku sangat ingin bergerak, aku tidak bisa bergerak. Tubuhku tidak ingin bergerak. Seperti dirantai. Mataku terbuka lebar, menatap layar iPhone-ku dengan ekspresi terkejut terpampang di wajahku. Sesekali kedua mataku akan berkedip, membersihkan bakteri dari bola mataku yang merah akibat mengantuk.
Satu detik, dua detik, tiga detik. Dan menit pada layar iPhone itu pun berganti.
07.01.
Dan dengan kecepatan bagaikan cahaya, aku turun dari tempat tidur yang super berantakan—dibandingkan dengan Hikaru—dan berlari ke arah lemari. Letaknya ada di pojokan di pokok ruangan, dan—BUK!
Entah apakah karena aku berlari terlalu kencang atau memang mataku masih belum terbuka sepenuhnya; aku secara tidak sengaja menabruk lemari. Kepalaku terbentur dengan lemari kayu tersebut, mengotori dahiku dengan noda benturan.
Aku merasakan sesuatu mengalir dari dahi ke hidungku. Aku berdiri, memegang kepalaku yang sedari tadi berdengung, dan menghadap ke cermin. Air merah itu mengalir dari dahiku secara perlahan, dan akhirnya menetes ke lantai. Aku menghela nafas. Biarkan Hikaru membersihkannya lah, pikirku sembari mengusap-usapkan kakiku terhadap darahku yang ada di lantai. Tidak, tidak jijik. Untuk apa jijik dengan darah sendiri?
Aku kembali menghadap ke lemari dan membukanya, lagi-lagi disambut oleh beberapa pakaian—baju santai, berbagai macam celana, pakaian dalam, et cetera. Mataku langsung tertuju kepada kemeja biru dan celana jeans.
Aku mengambilnya dan secepat cahaya, bajuku yang tadi—lebih tepatnya piyamaku—sudah terganti dengan kemeja biru dan celana jeans yang tadi.
Asrama ini—asrama Aventurn—membebaskan murid-muridnya untuk memakai baju bebas. Tentu saja, dengan syarat: rapi dan sopan. Yang kupakai sekarang ini kan sopan. Walau agak tidak rapi sih, heh. Dan tentu saja semua—atau kebanyakan, karena tidak semua murid patuh akan peraturan—murid mematuhinya, karena ada seorang guru disini yang super killer dan semua orang takut kepadanya.
Kembali lagi ke tempat tidur, aku mengambil tasku yang ada di bawah tempat tidur dan berlari ke pintu. Untungnya bagiku, Hikaru selalu membereskan bukunya sekaligus milikku sebelum ia tidur. Tepat sebelum aku keluar, aku mengambil jaket kulit kesayanganku yang digantung dengan rapi di pintu. Aku tertawa kecil.
Hikaru memang anak rajin. Seingatku, terakhir kali aku menaruhnya di kursi komputerku. Aku menggelengkan kepalaku, “dasar.”
Setelah membisikkan terima kasih, aku memakai sepatu sneakers-ku dan membuka pintu kamarku, dan dengan kecepatan secepat cahaya, aku berlari menuju kelas X-B, kelasku untuk tahun ini. Sekarang sudah semester dua di sekolah ini. Atau lebih cocoknya, sih, asrama. Asrama Aventurn.
Asrama Aventurn sudah berdiri sejak tahun 20XX, dan sudah merupakan salah satu asrama paling tertib di dunia. Asrama-asrama di dunia memang terkenal akan ketidakteribannya, tetapi kata-kata tersebut tidak berlaku bagi Asrama Aventurn. Memang, murid-muridnya ada yang nakal, tetapi tidak ada seorang pun yang memakai narkoba atau obat-obat terlarang. Bahkan, tidak sedikit orang kaya yang bersekolah disini.
Dan aku, Itoh Hayato—atau biasa dipanggil dengan namaku yang lain—Arthur Clayton, termasuk dalam kategori murid-murid yang nakal itu. Bukan berarti nakal mesum, melainkan lebih ke nakal yang tidak pernah mematuhi peraturan sekolah.
Suara langkah kaki ku bergema di sepanjang taman. Aku baru saja meninggalkan gedung dorm lelaki. Tentu saja, dorm lelaki dan dorm perempuan dipisah. Kedua dorm tersebut berseberangan, dengan sebuah air mancur indah yang memisahkan keduanya. Di bagian utara air mancur tersebut berdirilah sebuah bangunan yang sangat besar—gedung utama Aventurn, dimana murid-murid belajar dengan tekun. Tadi itu sarkastik.
Dengan cepat aku berlari ke arah pintu besar yang ada disana.
Pintu itu tidak otomatis—aku harus mendorongnya, dan itu akan membuat perjalananku ke kelas lebih lama lagi. Aku tidak peduli—kudorong pintu coklat yang elegan itu sekeras-kerasnya, hingga tukang kebun yang sedari tadi menggeleng-geleng melihatku terburu-buru ini berteriak. Aku meminta maaf, dan segera memasuki gedung itu.
Udara dingin adalah sesuatu yang paling pertama menyambutku. Biasanya aku akan menarik nafas dan berpikir bahwa udara air conditioner ini menyegarkan, tetapi saat ini aku mengabaikannya. Tujuanku saat ini adalah berlari menuju kelasku. Tempatnya berada di lantai satu di paling pojok.
Setelah beberapa menit berlari, aku akhirnya berhenti di depan sebuah pintu. Aku berlari sangat jauh—tetapi aku sama sekali tidak lelah. Nafasku masih stabil, dan tidak semua orang bisa seperti itu.
Sembari aku berhenti tiba-tiba, sepatuku membuat suara decitan nyaring yang mengganggu telinga. Maklum, lantai bersih dan sepatuku adalah sepatu basket.
Aku menatap ke atas, ke papan dimana sebuah tulisan dituliskan disana. X-B. Bagus. Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya pagi ini, dan memegang gagang pintu tersebut. Kemudian aku terdiam.
Aku mengingat pelajaran pertama hari ini—Sejarah. Tanpa kusadari, aku mendecikkan lidahku. Sialan, ujarku dalam hati. Aku bisa merasakan jantungku berdetak kencang, bersiap-siap akan ocehan guru yang sedang dalam perjalanannya ke telingaku. Menghela nafas lagi, aku membuka pintunya. Aku akan menggunakan trikku yang selalu gagal itu.
Aku menempelkan telingaku ke pintu dan menguping penjelasan guru dari luar. Suara lelaki terdengar di telingaku, sedang menjelaskan tentang Sejarah—aku tidak mengerti, aku tidak bisa Sejarah. Bagus, sang guru sedang menerangkan. Aku menggunakan ini sebagai kesempatanku untuk masuk kelas secara diam-diam.
Kubuka pintunya dengan perlahan, dan mengintip sedikit. Dari pintu, aku bisa melihat sang guru sedang menjelaskan apa yang sedang ia jelaskan sambil menghadap ke papan tulis, menulis sesuatu. Surai rambutnya mirip dengan surai Hikaru, tetapi kali ini rambutnya lebih pucat lagi—putih pucat. Warna kulitnya pun nyarin menyamai warna rambut guru itu.
Kesempatan emas, pikirku dalam hati. Aku merangkak di lantai dan membuka pintunya secara perlahan dan hati-hati dan sediam mungkin agar sang guru tidak menyadari keberadaanku. Tetapi, tentu saja, murid yang terdekat dengan pintu pasti menyadarinya. Orang itu menoleh ke arahku dan mengedipkan matanya untuk beberapa saat. Aku mengabaikannya—aku harus cepat-cepat ke mejaku. Mejaku ada di pojok baris kedua dari belakang—ayolah.
Dan entah apa hari ini memang hari sialku, atau memang murid sialan itu sengaja melakukannya. Murid perempuan bersurai pirang dengan beberapa highlight di rambutnya yang berwarna merah muda itu menunjuk ke arahku dan dengan suara yang lantang, ia berteriak, “Oh, Arthur Clayton baru datang! Mr. Clayton, Arthur baru datang!” Aku menatap mata biru tua perempuan itu dengan tajam, yang ia balas dengan tatapan mengejek yang membuatku kesal.
Tentu saja, semua kepala, termasuk kepala sang guru, menoleh ke arahku. Beberapa terkekeh, beberapa tersenyum pasrah, beberapa hanya menghela nafas. Mayoritas, sih, terkekeh mengejekku. Aku berbisik kata-kata indah kepada perempuan itu dan akhirnya berdiri sambil memasang senyuman bodoh dari pipi ke pipiku.
Di ujung mataku pun, aku bisa melihat tatapan datar yang ditujukan kepadaku dari teman sekamarku. Seakan-akan tatapan itu berkata, “itu salahmu sendiri, Hayato-kun.”
Jarak antara diriku dengan si guru jauh, tetapi aku bisa merasakan hawa panas darinya walaupun ia sudah seperti seorang yang dingin. Mata merahnya seakan menatap jiwaku, dan warna merahnya sangat cocok dengan rambut putihnya dan kulit putihnya yang nyaris sama dengan warna rambutnya. Sudah berkali-kali aku menatap balik kedua mata itu, tetapi tetap saja hasilnya sama—aku mematung.
Maafkan aku, kakakku yang tersayang~” ujarku, dengan keras mencoba untuk terdengar santai dan tak bersalah. Tetapi alhasil gagal juga, karena keringat dingin sudah terlanjur mengalir dari dahi ke pipiku. Seperti air mata, bedanya ini dari dahi, dan bukan dari mata.
Guru itu menggeram, memegang lebih erat spidol yang dipegangnya, dan mungkin spidol itu akan hancur beberapa detik kemudian—atau hanya aku yang melebih-lebihkannya. “Jangan panggil aku kakak disini, Arthur. Panggil aku Mr. Kenneth,” ujarnya kepadaku.
Nama guru itu Itoh Hibari—atau dengan nama lainnya disini—Kenneth Clayton. Dia kakakku, umurnya lima tahun lebih tua dariku—21 tahun. Dia bekerja disini sebagai guru. Guru muda ganteng yang terkenal akan perempuan ganjen disini.
Mungkin kebanyakan orang akan berpikir yang pertama masuk sekolah ini adalah kakakku, lalu aku diminta oleh kakakku untuk pindah sekolah kesini. Nope, salah besar. Malah, kebalikannya.
Aku mendaftar disini secara diam-diam karena suatu alasan, walaupun kakakku memintaku untuk bersekolah di sekolahnya yang dulu. Untungnya, aku diterima di Aventurn (dan aku bingung sampai sekarang—aku 'kan bodoh—kecuali dalam Bahasa Inggris dan olahraga—dan mengapa aku diterima di asrama tingkat tinggi ini). Namun, teman kakakku bekerja menjadi guru disana, dan ia pun memberitahku kakakku. Aku pulang saat itu dengan ketakutan, takut akan teriakkan kakak yang akan menggema di telingaku. Tetapi saat aku pulang, ia hanya menggelengkan kepalanya, menatapku pasrah dan menepuk kepalaku pelan sembari berkata, “dasar remaja.”
Aku sayang kakakku.
Hibari seakan ingin memarahiku. Tatapan matanya sungguh mengerikan. Ia menghentakkan kakinya ke lantai, membuat bulu kudukku berdiri. Namun, secara tiba-tiba, tatapan matanya berubah menjadi tatapan terkejut, pupil matanya melebar, seakan aku menumbuhkan kepala kedua.
Ia menunjukkan jarinya ke arahku, dan berkata, “Hayacchan, dahimu kenapa?”
Aku berkedip beberapa kali. Kata-kata yang baru saja diucapkan oleh kakakku masih diproses di dalam otakku. Beberapa detik kemudian, proses itu selesai. Aku memegang dahiku, dan merasakan air kental yang tadi. Oh. Darah.
Oh, ini,” aku tersenyum polos. “Aku tadi nggak sengaja menabrak lemari. Keras pula,” ujarku dan diikuti dengan tawaan kecil.
Hibari menggelengkan kepalanya, berkata sesuatu yang aku tidak dengar, lalu kembali menghadapku, tangannya dilipat di depan dadanya. “Obati saja dulu di UKS,” ucapnya. Sesuatu di dalamku sepertinya meledak karena kesenangan yang berlebihan.
S—sungguh...?” Tanyaku, tidak yakin akan kata-kata kakakku barusan.
Sebuah senyuman lebar muncul di sepanjang mulutku saat kakakku mengangguk. “Iya, suruh Ms. Flynn mengobatinya.”
Dengan segera aku pun mengangguk, “b-baiklah,” jawabku. Sebelum pergi keluar kelas dan ke UKS, aku menaruh tasku di mejaku—pojok baris kedua dari belakang. Setelah itu, aku memberi kakakku sebuah hormat hanya untuk bercanda, lalu dengan segera meninggalkan kelas, dan berjalan santai ke arah UKS.
Selama perjalanan, aku hanya bisa memikirkan satu hal: aku bersyukur punya kakak sepertinya. Sepertinya aku harus menceritakan sedikit dengan kakakku itu.
Pertama, bnyak orang juga mengira bahwa kakakku itu kakak angkat karena ia sama sekali tidak mirip denganku. Rambut putihnya seperti salju, dan kulitnya yang hampir menyamai warna rambutnya, juga dengan kedua mata merahnya itu. Aku? Aku punya kulit normal, tidak terlalu putih dan juga tidak hitam, dengan kedua mata biruku dan rambut pirangku yang berantakan.
Tidak hanya fisik, kami pun juga berbeda di dalamnya. Hibari tidak pintar dalam olahraga—tenaganya sedikit. Ia bahkan tidak bisa menaiki sepuluh anak tangga tanpa menghela nafas pendek. Aku berbeda dengan kakakku. Ingat 'kan, saat aku berlari dari dorm lelaki hingga kelas? Aku bahkan tidak lelah sama sekali. Kalau itu kakakku, pasti kakakku sudah pingsan.
Hibari pintar dalam pelajaran penting—sejarah, geografi, matematika, dan lain-lain. Sedangkan aku? Hah, jangan ditanya lagi. Aku bodoh—sangat bodoh bahkan. Kecuali dalam bahasa inggris, olahraga, dan komputer. Itu, aku sangat pintar.
Mengira kami bukan saudara kandung? Salah besar. Ia memang secara biologis kakak kandungku. Itu fakta. Kalau tidak percaya, lihat saja akta kelahirannya.
Kakakku itu seorang albino. Dia terlahir sebagai albino, membuat rambutnya putih dan kulitnya putih pucat, juga matanya yang merah terang itu. Menyeramkan jika dipandang untuk pertama kalinya, tetapi jika kau sudah mengenalnya lama, pasti tidak menyeramkan. Kakakku baik—sangat baik, bahkan.
Aku dari kecil dirawat oleh kakakku. Aku tidak pernah mengenal orangtuaku—aku hanya tahu nama mereka, diberitahu oleh kakak. Nama mereka adalah Itoh Goro dan Ran. Kata kakakku, aku mendapat rambut pirangku dari ayah, sedangkan mata biruku dari ibu.
Kakakku itu super duper baik. Pernah, sewaktu aku masih kecil, sekitar umur 6 tahun kalau tidak salah, aku meminta sebuah Nintendo 64, karena dulu yang trend dikalangan anak-anak umur 6 tahun adalah Nintendo 64. Dan tepat esok harinya, yang pertama kulihat setelah membuka mataku dari tidur adalah sebuah Nintendo 64. Ah, betapa senangnya aku waktu itu.
Sungguh, aku sangat bersyukur mempunyai kakak seperti dia. Jarang ada kakak seperti dia. Aku tidak ingin dia meninggalkanku—sama sekali.

* * *

Mataku tertutup, dan aku hanya bisa melihat kegelapan saat ini, tetapi aku masih bisa merasakan tangan lembut sang guru kesehatan di dahiku, mengusap-usap dahiku dengan sebuah kapas putih yang lembut untuk membersihkan darah kental tadi.
Sepanjang perjalanan kesini, darahku menetes ke lantai, membuat orang yang sedang membersihkannya memarahiku. Tadi pagi tukang kebun, lalu orang bersih-bersih lantai. Apa lagi nanti?
Aku menghela nafas saat aku sudah tida bisa merasakan tangan sang guru di dahiku lagi. Aku pun membuka mataku dan mengusap mataku yang kiri. Pipiku memerah ketika tahu seberapa dekatnya wajahku dengan wajah sang guru ini. Dengan segera aku mendorong kursi yang kududuki mundur.
Guru itu memiringkan kepalanya, “ada apa, Mr. Clayton?” tanyanya ramah, diikuti dengan senyumannya yang bagaikan senyuman malaikat. Mungkin ia bidadari yang jatuh dari surga.
Aku menggelengkan kepalaku. “T-Tidak...”
Begitukah?” Aku mengangguk untuk menjawabnya. Kemudian ia mengambil sebuah kapas lagi, dan berjalan ke arah wastafel yang ada di pojok ruangan. Aku mengikuti setiap gerak-geriknya.
Guru ini adalah Ms. Flynn. Emily Flynn, nama panjangnya. Dia adalah guru tercantik di seluruh Asrama Aventurn. Dia sangat terkenal di kalangan lelaki rendahan—kau tahulah, yang mesum. Tidak sedikit lelaki yang pura-pura sakit hanya untuk bertemu dengannya.
Rambut pirangnya sangat lurus mencapai pinggangnya dan sepertinya tidak kusut. Aku tidak pernah memegangnya, jadi aku tidak tahu. Matanya pun menakjubkan—mata yang berwarna merah muda itu bersinar, dan selalu menarik perhatian orang-orang disekitarnya. Senyumannya pun tulus. Senyumannya itu adalah senjatanya yang paling ampuh.
Tetapi ada satu hambatan bagi mereka yang ingin mendekatinya.
Oi,” sebuah suara berat dan serak menggema di sebelahku, dari kasur yang satu lagi. Aku menengok ke arahnya, dan mataku tertuju ke sepasang mata hijau-biru yang juga menatap mataku. Tatapannya tajam—lebih tajam dari tatapan kakakku. Menyeramkan.
Jangan menatapnya, tanah liat,” geramnya kepadaku. Jika aku seekor anjing, telinga dan ekorku pasti sudah lemas karena ketakutan.
M-Maaf—!” ucapku dengan segera, dan memalingkan wajahku.
Beberapa detik kemudian, aku melirik kembali ke orang itu. Untungnya, dia sudah memalingkan pandangannya dariku. Orang ini sedang asik bersantai di atas kasur dengan sebuah rokok di mulutnya. Ia menghisap rokok itu seakan rokok itu sebuah permen. Asap rokok itu melayang-layang di udara. Membuat polusi lebih parah saja, orang ini.
Orang ini adalah hambatan yang tadi kubilang. Peter Auttenberg, namanya. Kelas XII, jadi aku tidak berani melawan. Jika ia hanya kelas XI, aku masih berani melawan. Pacar Ms. Flynn.
Ia mempunyai rambut yang unik—rambutnya berdiri seperti habis di setrum dan berwarna biru. Ia pernah berkata bahwa rambut birunya itu asli dari lahir, dan adiknya juga mempunyai rambut dengan warna yang sama. Matanya pun juga unik. Ia heterochromia—mempunyai dua warna mata. Mata kirinya berwarna biru, sama dengan warna rambutnya; sedangkan mata kanannya berwarna hijau. Sangat unik, aku jadi iri.
Peter adalah berandalan nomor satu di sekolah ini dan di kota ini, kota Arlergie. Ia sering bolos sekolah, suka sekali merokok, pergi ke klub malam, bahkan bergaul dengan tidak benar. Tetapi tidak sampai menggunakan obat-obat terlarang. Yang kutahu, ia tidak se-brengsek itu—demi pacarnya.
Ms. Flynn datang dengan sebaskom air dan kapas dan plester di tangannya. Ia menaruh baskom air itu di meja di sebelah kasur yang kutempati dan menaruh plesternya di sebelahku.
Ia menengok ke arah Peter sebentar, dan menghela nafas. “Peter, sudah berapa kali kubilang kau tidak boleh merokok? Itu tidak baik bagi kesehatanmu!” ocehnya, tetapi Peter hanya menjawabnya dengan sebuah “hnng” dan memalingkan pandangannya, tidak terlihat peduli.
Peter memang kelihatannya tidak peduli dengan Ms. Flynn, tetapi sebenarnya ia sangat peduli. Dan ya, memang disini diperbolehkan menjalin hubungan dengan seorang guru, dengan alasan, “cinta itu tidak mempunyai batas.”
Ms. Flynn pun menyerah. “Baiklah,” ucap Ms. Flynn kepada dirinya sendiri, kemudian membasahi kapas itu dan menempelkannya di dahiku. Dingin rasanya. Dingin itu merambat dari dahi ke seluruh tubuhku, membuat seluruh tubuhku seketika dingin. Aku mengambil selimut dan segera menutup tubuhku dengannya. Ms. Flynn menatapku dengan aneh.
Mr. Clayton, kau kedinginan?” tanyanya, dan aku hanya mengangguk.
Setelah membersihkan luka dan membersihkan darah yang sudah kering, sang guru menempelkan plester di dahiku. “Yap, sudah selesai!” Ujarnya dengan senyuman lebar, menandakan ia bangga dengan hasil kerjanya.
Aku membalas senyumannya yang manis itu dengan senyumanku yang biasa kugunakan untuk menggombal perempuan. “Terima kasih, Ms. Flynn,” ucapku. Dan sepertinya aku merasakan aura pembunuh datang dari si rambut biru. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini.
Aku pun turun dari tempat tidur dan membungkuk kepada Ms. Flynn—sekalian kepada Peter sekaligus meminta maaf—dan segera berlari kembali ke kelas X-B. Saat perjalanan kesana, aku sudah tidak melihat tetesan darahku lagi di lantai. Mungkin si tukang pel sudah membersihkannya. Baguslah kalau begitu, aku tidak repot-repot membersihkannya.
Beberapa menit kemudian, aku sampai di kelas. Aku tidak mendengar bel apapun sebelumnya, jadi mungkin masih pelajaran Sejarah. Dan benar apa tebakanku.
Pada saat aku masuk, Hibari masih ada disana. Ia pun menyuruhku untuk duduk dan diam, catat semua apa yang ada di papan tulis. Dan jika ada yang ketinggalan, pinjam catatan milik teman. Aku menatap temanku yang duduk di sebelahku. Oh. Derek, si jenius kelas X-B. Untung saja dia pintar—selalu ranking satu.
Ey, Derek,” panggilku.
Rambut hitamnya yang lumayan panjang sedikit berkibar saat ia menoleh kearahku. Ia menatapku dari kacamatanya, “nanti pinjam catatanku,” ujarnya datar dan menatapku dengan datar juga, “iya, aku tahu. Sudah biasa, lagi pula.” Hahahaha.

* * *

Detik demi detik terlewat dan menit lewat menit terlewat. Sudah dua puluh menit sejak aku kembali dari UKS, dan seharusnya bel berbunyi sekarang. Aku sudah bosan mendengarkan penjelasan kakakku yang panjang lebar tentang sejarah luar negeri yang tidak penting.
Kenapa kita harus tahu sejarah luar negeri? Kenapa kita harus tahu sejarah negara kita sendiri? Yang penting 'kan, kita tahu sejarah kita, bukan? Sejarah kita adalah sejarah yang paling penting. Jika kita tidak ada sejarah—tidak ada masa lalu, kita tidak bisa melihat ke masa depan. Masa depan juga penting. Tetapi menurutku, masa lalu itu lebih penting daripada masa depan. Karena, masa depan bisa berganti. Kau bisa mengganti masa depan—tetapi kau tidak bisa mengganti masa lalu. Masa lalu juga bisa mengubah kita dengan cara membuat kita mengingat sesuatu yang ada di masa lalu. Contohnya, jika saat ini kau sedang melakukan sesuatu yang pernah kau lakukan, tetapi kau lupa caranya, masa lalu bisa membantumu. Coba ingat, dengan menggambarkan sesuatu di pikiran. Itu akan membantumu—aku biasanya seperti itu.
Ah, aku baru saja memikirkan sesuatu yang dalam. Jarang sekali.
Aku mengentuk-ngentuk mejaku beberapa kali karena bosan, membuat suara berisik yang mengganggu orang-orang di sekitarku. Aku tahu, karena beberapa orang sesekali melihat ke arahku, dan menatapku tajam. Tetapi aku tidak merasa bersalah sama sekali—malah, aku merasa puas. Aku puas hanya dengan mengganggu orang lain demi kesenanganku sendiri. Tapi tentu saja, aku tidak pernah mengganggu orang lain secara keterlaluan. Aku tidak pernah menindas orang. Malah kebalikannya. Apa aku bukan orang yang kelihatannya sering ditindas? Aku sering ditindas. Tetapi tidak sampai melukaiku, tentu saja. Maka dari itu aku tidak masalah dan membiarkan mereka.
Arthur,” suara kakakku menggema di telingaku. Aku menoleh ke arah Hibari yang sedang mengajar sambil memasang ekspresi polos. “Ya?”
Hibari menghela nafas terlebih dahulu sebelum berkata, “beris—“ namun kata-katanya telah dipotong oleh suara nyaring dari surga. Suara bel tanda pelajaran berakhir.
Semua murid menghela nafas mereka, dan aku tahu mereka berusaha untuk tidak berteriak karena pelajaran pertama telah selesai. Aku pun begitu, menghela nafas pula, lalu tersenyum lebar. Satu pelajaran lagi sampai istirahat pertama.
Hibari mendeham keras, menarik perhatian semua murid, dan juga membuat sekelas diam. “Baiklah, pelajaran akan dilanjutkan hari Kamis,” ujarnya sembari membereskan buku-bukunya. Setelah itu, ia melambaikan tangannya dan pergi keluar kelas. Um, apa hanya aku saja atau tadi sebelum ia keluar kelas, kakak menatapku? Aku menggelengkan kepalaku. “Mungkin hanya imajinasiku.”
Setelah ia meninggalkan kelas, aku memasukkan buku Sejarahku ke tasku, lalu menoleh ke arah Derek, yang kulihat sedang mencari sebuah buku dari tasnya. “Hey,” panggilku. Ia menoleh.
Ya?” Ia berhenti melakukan aktivitasnya dan mengangkat kedua alis matanya, “ada apa, Clayton?”
Habis ini pelajaran apa?” tanyaku. Aku memang tidak hafal jadwal pelajaran—dan tidak akan pernah hafal.
Latin,” jawabnya.
Mataku melebar sebentar, kemudian sadar akan tatapan aneh yang diberikan Derek kepadaku, aku langsung menggelengkan kepalaku. “Oke deh, thanks!” Dan ia hanya menjawab dengan sebuah anggukan kepala.
Kembali menatap mejaku, mataku kembali melebar. Latin? Batinku. Latin— oh, tidak. Aku memijat-mijat kepalaku walaupun kepalaku tidak sakit atau apapun—hanya untuk menenangkan diriku sendiri. Latin—si guru killer akan datang. Si guru killer...
Pintu kelas terbuka, dan seketika sekelas terdiam. Sembari mengeluarkan buku Latin dari tasku, aku menatap pintu kelas. Disana, terlihat seseorang dengan kemeja abu-abu dan rambut biru muda. Seperti milik Peter, tetapi warnanya lebih muda. Dia memakai kacamata, dan tatapannya terlihat serius—salah satu ciri-ciri guru killer. Di tangan kirinya, ia memegang setumpuk buku Latin; dan di tangan kanannya, ia memegang sebuah tongkat besi tipis. Tongkat itu digunakan sebagai ancaman untuk murid-murid yang tidak mendengarkannya saat ia menjelaskan, untuk murid-murid yang tidur saat pelajaran, untuk murid-murid yang tidak mencatat penjelasannya, untuk murid-murid yang tidak mengerjakan tugas, dan lain-lain. Itulah mengapa guru ini, Lloyd Collins, menjadi guru yang paling killer di Asrama Aventurn, juga wakil kepala sekolah.
Dan yang paling sering terkena hukumannya adalah, tentu saja, the one and only Peter Auttenberg. Siapa lagi? Ia 'kan yang paling nakal di asrama ini.
Mr. Collins berjalan dengan cepat ke meja guru, dan segera duduk di kursi guru. “Selamat pagi,” ucapnya datar dalam Bahasa Inggris biasa. Tumben, biasanya ia menyapa kelas dengan bahasa Latin. Mungkin dia salah minum obat?
Mr. Collins! Kau salah minum obat, ya? Kok pakai Bahasa Inggris?” teriakku dari belakang. Semua orang menatapku seperti aku orang gila atau aku telah menumbuhkan kepala kedua, atau aku mempunyai permohonan untuk mati. Hah! Tidak seperti kebanyakan orang—kecuali Peter—aku tidak takut sama sekali dengan Mr. Collins. Aku hanya takut dengan kakakku sendiri, karena. Ya, karena, karena.
Aku bisa merasakan aura gelap Mr. Collins bahkan dari sini. Auranya menyeramkan, memang, Tapi, untuk apa takut? Bukan berarti dia akan membunuhmu, iya 'kan? Tersenyum polos, aku melambaikan tanganku kepadanya. “Ada apa, Mr. Collins? Sick? Yah, kalau begitu, jangan masuk saja! Itu lebih baik, baik akan kesehatanmu!” Dan baik akan kami para murid juga.
Aku melihat Mr. Collins menghela nafas. “Arthur,” panggilnya. Tangannya menandakan ia ingin aku kesana. “Kemari kau,” ujarnya. Tatapannya sedingin es, membuat bulu kudukku merinding. Tetapi aku tetap mendatanginya.
Aku berjalan ke arah Mr. Collins dan tersenyum sepolos mungkin—memasang tampang orang tidak berdosa. “Ada apa, Sir Collins?”
Dan, BUK!! Kepalaku dipukul oleh Mr. Collins. DENGAN TONGKAT BESINYA.
Aku meraung kesakitan sembari memegang dan mengusap-usap kepalaku yang tadi dipukul oleh Mr. Collins. “Sialan—!!” bisikku. Aku mengusap kepalaku berkali-keli sambil meraung-raung kesakitan untuk beberapa menit selanjutnya, lalu menghadap ke arah Mr. Collins. Dengan muka yang memelas. Palsu, tentunya. “Ma-maa—“
PLAK!! Yang ada ia memukulku lagi. Aku bisa merasakan benjolan di kepalaku akibat pukulan Mr. Collins. Sial. Aku meraung kesakitan lagi. Yang lain hanya tertawa melihat kesengsaraanku ini. Well, mungkin memang sedari awal ini kesalahanku karena telah meledek Mr. Collins. Aku kena batunya, eh.
Arthur,” panggilnya. Aku segera menoleh ke arahnya dan memandang matanya. Masih menyeramkan—matanya biru, tetapi seperti merah di kepalaku. Aneh. Mungkin aku pusing karena dipukul oleh Mr. Collins. Padahal tadi aku baru ke UKS.
Ya?” sahutku.
Mr. Collins menunjuk ke arah kanannya dengan tongkat besinya. Aku mengikuti arah yang di tunjuk oleh Mr. Collins, dan mataku berhenti di ujung tembok. Ujung tembok. Oh.
Aku menoleh ke arah Mr. Collins lagi, berharap ia bercanda. Tetapi setahu Mr. Collins, ia tidak pernah bercanda, kecuali kalau ia bilang begitu—hah. Saat mataku bertemu dengan matanya, aku segera mengalihkan pandanganku lagi dan berjalan ke ujung tembok dengan agak cepat. Keringat dingin mengalir dari pelipisku. Mataku melebar.

Senyuman liciknya memang mengerikan.

No comments:

Post a Comment

Black Tiny Hand Bobblehead Bunny